Pembinaan Sekaa Santi Se-Desa Mekar Bhuwana

  • 16 November 2018
  • Dibaca: 377 Pengunjung
Pembinaan Sekaa Santi Se-Desa Mekar Bhuwana

Di masing-masing banjar Sekaa Santi atau biasa dikenal dengan pasantian mempunyai fungsinya sendiri, yang berkaitan erat dengan Upacara Panca Yadnya. Sekaa Santi merupakan wadah kelompok masyarakat pecinta sastra berupa tembang seperti Sloka, Palawakya, Sekar Agung/Kakawin, Sekar Madia/Kidung, dan Sekar Alit/Macapat. Pada hari Kamis (15/11/2018) Sekaa Santi Se-Desa Mekar Bhuwana berkumpul untuk menghadiri pembinaan yang diadakan di Kantor Perbekel Desa Mekar Bhuwana. I Wayan Aris dan I Nyoman Wija Widastra merupakan narasumber Perwakilan dari Dinas Kebudayaan  Kabupaten Badung yang mengisi pembinaan tersebut.

Pemaparan materi tentang Sekar Alit (Macapat) lebih ditekankan pada peserta yang hadir. Macapat sendiri diatur oleh Padalingsa yaitu huruf vokal pada akhir suku kata masing-masing baris dalam satu bait. Hal ini perlu diperhatikan karena disetiap pupuh mempunyai padalingsa yang berbeda pula. Padalingsa juga dapat mencakup tiga aturan (uger-uger) yaitu, guru gatra, guru wilangan, dan guru suara/ding dong. Dalam menyajikan tembang macapat atau pupuh pada dasarnya dapat ditempuh dengan dua cara yakni sistem paca priring, yaitu sistem membaca atau menyajikan nada-nada pokok tembang satu demi satu bagi orang yang baru mulai belajar menembang.  Sistem ngwilet atau gregel, yaitu sistem dalam menyanyikan tembang sudah memakai hiasan atau variasi cengkok, anak nada, dan pemakaian tempo lebih panjang. Salah satu peserta dari pembinaan ini mengaku bahwa kegiatan ini sangat berguna untuk membangkitkan kembali Sekaa Santi yang ada di masing-masing banjar, selain itu juga agar anggota Sekaa Santi dapat melatih diri untuk bisa menguasai banyak tembang dengan aturan yang sudah ada terutama dalam menyajikan tembang Macapat.

Perbekel Desa Mekar Bhuwana mengapresiasi kegiatan pembinaan ini, yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sekaa Santi di setiap banjar. Tidak hanya itu I Gusti Made Sudiana, SE. selaku Perbekel juga berharap, dari Sekaa Santi ini semoga bisa menurunkan bakat yang dipunyai kepada anak cucu di rumah agar bisa memberikan nilai budaya yang positif bagi kalangan pada jaman sekarang, dikarenakan perubahan jaman sekarang yang menuju jaman digitalisasi bisa saja menggerus nilai-nilai seni dan kebudayaan.

 

013/Widi/KIM-MB/2018

  • 16 November 2018
  • Dibaca: 377 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita